JAKARTA, AFU.ID — Kinerja publikasi internasional dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mengalami kenaikan yang sangat drastis.
Melansir website Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), Sabtu (30/5/2026), tren positif tersebut tercatat dalam dua tahun terakhir.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag RI, Prof Sahiron, menyampaikan data jumlah dokumen ilmiah dan sitasi internasional PTKIN yang terindeks Scopus periode 2025-2026.
Data menunjukkan total scholarly output PTKIN periode 2025-2026 mencapai 2.241 dokumen, dengan sitasi internasional sebanyak 3.075.
Berdasarkan data Scopus dan SciVal tahun 2025-2026, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mencatatkan kinerja tertinggi pada kategori scholarly output dengan total 426 dokumen internasional.
Posisi kedua ada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (415) dan ketiga adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (351).
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menempati posisi tertinggi dalam kategori sitasi internasional dengan total 898 sitasi.
Selanjutnya adalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung (502) dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (442).
“Peningkatan publikasi dan sitasi internasional ini menunjukkan PTKIN semakin aktif berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan percakapan akademik global,” ungkapnya.
“Ini bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang kualitas, relevansi, dan dampak keilmuan,” sambung Prof Sahiron.
Ia juga menyatakan, capaian tersebut menjadi indikator penting meningkatnya budaya akademik, produktivitas riset, serta reputasi global PTKIN di tingkat internasional.
Bagi Prof Sahiron, capaian tersebut merupakan hasil dari penguatan ekosistem riset yang terus terbangun di lingkungan PTKIN.
Mulai dari peningkatan kapasitas dosen, kolaborasi internasional, dukungan jurnal bereputasi, hingga penguatan tata kelola penelitian.
“Kami terus mendorong PTKIN agar tidak hanya fokus pada kuantitas publikasi, tetapi juga kualitas riset yang memberikan solusi atas persoalan masyarakat, bangsa, dan dunia Islam kontemporer,” tuturnya.
Prof Sahiron lantas menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin ilmu sebagai strategi memperkuat posisi PTKIN dalam peta pendidikan tinggi dunia.
Menurutnya, publikasi internasional menjadi salah satu instrumen strategis dalam meningkatkan reputasi akademik kampus, memperluas jejaring keilmuan global, serta memperkuat kontribusi Indonesia dalam pengembangan studi Islam moderat dan transformatif.
“Ke depan, kami berharap capaian ini dapat terus meningkat melalui sinergi seluruh sivitas akademika PTKIN,” ujarnya.
“Budaya riset harus menjadi napas akademik kampus agar PTKIN mampu menjadi pusat unggulan keilmuan Islam di tingkat dunia,” tambahnya.
Capaian tersebut memperlihatkan semakin kuatnya kontribusi PTKIN dalam pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan yang universal. (ADR)