JAKARTA, AFU.ID — Penyakit ginjal kronis kerap tidak menimbulkan gejala hingga memasuki tahap berat. Pada kondisi tersebut, pasien dapat memerlukan hemodialisis atau cuci darah untuk membantu membuang racun dan sisa metabolisme yang tidak lagi dapat dikeluarkan ginjal.
Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia Anindia Larasati mengatakan hemodialisis dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis. Terapi ini antara lain ditujukan untuk mengurangi keluhan cepat lelah, mual, muntah, dan bengkak pada tubuh.
“Setelah pasien menjalani hemodialisis rutin, keluhan itu akan berkurang, kualitas hidup meningkat, dan komplikasi pasien di masa depan juga akan berkurang,” kata Anindia di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Hemodialisis dilakukan dengan mengalirkan darah pasien ke mesin dialisis. Darah kemudian disaring menggunakan dialiser untuk mengeluarkan racun, sisa metabolisme, dan kelebihan cairan sebelum dialirkan kembali ke tubuh.
Anindia mengatakan pasien dapat membutuhkan hemodialisis dalam jangka panjang apabila penurunan fungsi ginjal dipicu penyakit yang berlangsung lama. Kondisi itu antara lain hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas yang tidak terkendali.
Penyakit ginjal kronis sering disebut silent killer karena gejalanya tidak selalu terasa pada tahap awal. Banyak pasien baru mengetahui kondisi ginjalnya setelah muncul keluhan berat atau fungsi ginjal sudah menurun secara signifikan.
Setelah menjalani cuci darah, pasien tetap perlu kontrol rutin dan menjalani terapi sesuai anjuran dokter. Pembatasan asupan cairan juga penting untuk mengurangi risiko sesak napas dan pembengkakan akibat penumpukan cairan.
Selain hemodialisis, pasien gagal ginjal dapat menjalani dialisis peritoneal atau Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Pilihan lain adalah transplantasi ginjal dari pendonor yang memenuhi persyaratan medis.
Pemeriksaan kesehatan rutin penting terutama bagi masyarakat dengan hipertensi, diabetes, atau obesitas. Deteksi dini memberi ruang untuk mengendalikan faktor risiko sebelum kerusakan ginjal berkembang hingga membutuhkan terapi pengganti ginjal. (RHU)