JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah Republik Indonesia (RI) menargetkan posisi sebagai produsen produk halal nomor satu di dunia, bukan sekadar menjadi pasar konsumen.
Melansir website Kementerian Agama (Kemenag) RI, Minggu (31/5/2026), ekonomi syariah Indonesia kini telah mencapai peringkat kedua global.
“Ambisi kita sebagai negara Musim terbesar di dunia adalah menjadi produsen produk halal tertinggi,” ungkap Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar.
“Ekonomi syariah kita sekarang urutan kedua dan insyaallah nanti bisa menjadi top satu,” sambungnya.
Kendati mencetak prestasi global, Nasaruddin Umar memberikan catatan kritis terkait rendahnya tingkat literasi ekonomi syariah nasional.
Sebagai perbandingan, kesadaran ekonomi syariah di Malaysia telah menyentuh angka 76% dan Indonesia baru berkisar di angka 7%.
Oleh karenanya, Kemenag RI bersinergi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, serta DARE Indonesia untuk meningkatkan kesadaran tersebut hingga melebihi 50%.
Menag Nasaruddin Umar pun mendorong publik memandang pengembangan komoditas halal sebagai bentuk jihad ekonomi umat yang memadukan eksposur (scope) dan pendalaman nilai spiritual (force).
“Mau tidak mau, nanti, pasti jaminan produk halal itu akan menjadi konsumsi publik,” tuturnya.
“Saya melihat bahwa produk halal nanti di masa depan (di Indonesia dan dunia, red) itu akan sangat-sangat digemari,” pungkasnya.
Sebagai informasi, tren global menunjukkan bahwa Islam kini bersifat stateless, terbukti dengan mudahnya menemukan komoditas halal di Jepang, Korea Selatan, hingga Inggris. (ADR)