JAKARTA, AFU.ID — Pasar modal Indonesia kini harap-harap cemas menanti pengumuman hasil peninjauan indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pengumuman tersebut rencananya rilis pada Selasa, 12 Mei 2026 sore hari waktu Amerika Serikat.
Sehingga, datanya baru bisa terakses pada Rabu, 13 Mei 2026 dini hari besok atau sekira pukul 03.00-05.00 WIB.
Beberapa saham berpotensi keluar (deletion) dari indeks, terutama yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC).
Sebagai informasi, HSC adalah kondisi kepemilikan saham suatu perusahaan publik terpusat secara signifikan pada segelintir pemegang saham tertentu atau kelompok afiliasi saja.
Dua di antaranya adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA).
Bursa Efek Indonesia (BEI) lantas menetapkan, saham-saham kategori HSC tak boleh masuk dalam indeks utama seperti IDX30, LQ45, dan IDX80.
Kendati bukan sebuah pelanggaran hukum maupun indikasi manipulasi, tapi saham kategori HSC tetap mempunyai risiko likuiditas.
Pengumuman MSCI juga berpotensi menurunkan bobot (reweighting) deretan saham yang berkapitalisasi (market cap) besar.
Contohnya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
IHSG Tertekan, Rupiah Tembus Rp17.500 per USD
Perubahan komposisi saham dalam indeks global MSCI sebenarnya baru akan berlaku efektif pada penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026 mendatang.
Akan tetapi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mulai merasakan tekanan yang teramat dahsyat.
Antisipasi pengumuman MSCI memicu volatilitas tinggi karena adanya kekhawatiran terkait penurunan bobot saham Indonesia di indeks global.
Pada Selasa (12/6/2026) hari ini, IHSG sempat dibuka menguat dari 6.909,62 pada penutupan perdagangan kemarin menjadi 6.946,84.
Akan tetapi, IHSG seketika anjlok ke angka 6.817,21 ketika berita ini dibuat.
Penyebab utamanya adalah investor asing yang cenderung melakukan aksi jual bersih (net sell).
Mereka mengantisipasi potensi keluarnya saham-saham kategori HSC, termasuk BREN dan DSSA dari indeks global MSCI.
Pasar saham mencatatkan net sell asing sebesar Rp37,61 triliun per Jumat (8/5/2026) lalu.
Bahkan sepanjang sesi pertama perdagangan Selasa ini, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp679,5 miliar di BEI.
Sementara itu, kurs rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sudah menembus Rp17.501.
Angka tersebut naik 136 poin dari hari sebelumnya yang sebesar Rp17.365 per USD.
Kendati bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi, tapi ketidakpastian hasil tinjauan MSCI memicu aliran modal keluar (outflow).
Investor global melakukan penyesuaian portofolio di pasar modal Indonesia, sehingga secara langsung meningkatkan permintaan USD dan menekan IDR.
OJK dan BEI Santai Tunggu Pengumuman MSCI
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi menegaskan bahwa pihaknya akan mengantisipasi gejolak pasar imbas pengumuman MSCI.
Kiki, sapaan akrab Friderica Widyasari Dewi menyampaikan, pihaknya bersama OJK terus menjalankan reformasi perbaikan pasar modal Indonesia sejak awal 2026.
“Mungkin bisa menjadi short term pain (penderitaan jangka pendek, red), tapi insyaallah menjadi long term gain (keuntungan jangka panjang, red),” ungkapnya, Senin (11/6/2026).
Ia lantas menyatakan, pengumuman MSCI memang sangat berpotensi menghadirkan gejolak pada pasar modal Indonesia.
Oleh karena itu, Ketua Dewan Komisioner OJK ini meminta investor lokal agar tak panik.
Kiki menjelaskan, dampak pengumuman MSCI hanya sebuah konsekuensi dari serangkaian reformasi pasar modal Indonesia.
Terlebih lagi, kondisi makro ekonomi nasional dalam kondisi solid yang bisa memberikan rasa percaya diri kepada para investor.
“Jadi jangan orang itu dibikin panik, ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan,” tuturnya.
Sementara itu, Jeffrey Hendrik selaku Pejabat Sementara Direktur Utama (Pjs Dirut) BEI menilai gejolak pasar akibat MSCI bukan sebuah bencana atau ancaman.
Jeffrey malah melihatnya sebagai peluang membenahi fundamental pasar modal Indonesia yang menggunakan best practice global.
Contohnya, penerapan pembukaan data keterbukaan investor di atas 1% hanya ada di India dan Indonesia.
Sedangkan pembukaan data daftar saham yang terkonsentrasi alias HSC hanya berlaku di Hong Kong dan Indonesia.
“Jadi, apa yang menjadi best practice di India maupun Hong Kong yang tidak ada di tempat lain itu kita adopsi,” ujar Jefrrey.
“Itulah yang membuat saat ini sepertinya bursa Indonesia adalah bursa yang paling transparan di dunia,” sambungnya.
Pjs Dirut BEI ini pun memandang penurunan bobot saham Indonesia di MSCI sangat vital demi kesehatan pasar modal jangka panjang.
“Proses reformasi ini akan menjadi proses yang tidak pernah berhenti sampai Bursa Efek Indonesia menjadi bursa kelas dunia,” papar Jeffrey.
“Kami dari Bursa Efek Indonesia sangat confidence (percaya diri, red) pasar modal Indonesia on the right track, in the right direction (di jalan dan arah yang benar, red),” tambahnya.
Respons Danantara dan Pemerintah
Di sisi lain, Pandu Sjahrir selaku Chief Investment Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (CIO BPI Danantara) juga merasa tak khawatir terhadap pengumuman MSCI.
Pandu Sjahrir menyampaikan, penurunan IHSG yang terjadi tak ada kaitannya dengan sentimen kepatutan pihak bursa dan regulator dalam negeri terhadap permintaan MSCI.
“Saya sudah lihat perkembangannya, bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan,” ucapnya.
“Saya rasa perubahan bukan menyangkut soal MSCI, lebih banyak soal (sentimen, red) rupiah dan segala macam,” lanjutnya.
Ia pun memandang, bursa Indonesia harus mampu bersaing di skala global dan mampu merekrut pekerja dari luar negeri.
“Jika harus merekrut pekerja luar negeri, rekrut yang terbaik, itu akan memengaruhi orang-orang untuk berinvestasi lebih banyak,” kata Pandu.
CIO BPI Danantara ini bahkan mendukung langkah Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI) dalam mengembangkan bursa.
Sebagai informasi, indeks global MSC memang sangat memengaruhi pasar modal di banyak negara dunia.
Ketika sebuah saham masuk ke dalam MSCI, investor global harus ikut membeli saham tersebut agar portofolionya sesuai dengan komposisi indeks.
Sebaliknya, apabila suatu saham atau bahkan sebuah negara terancam keluar dari indeks, pasar bisa langsung terguncang akibat tekanan net sell investor asing. (ADR)