Penulis: Putri Nadhila · Reporter: Putri Nadhila
JAKARTA, AFU.ID — Harapan pulihnya stabilitas pasar keuangan domestik kembali hancur usai macetnya negosiasi perang di Timur Tengah langsung menyeret jatuh mata uang nasional.
"Rupiah diperkirakan akan melemah," ucap Analis Doo Financial Futures Lukman Leong di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Secara analitis, kegagalan diplomasi tersebut memicu penguatan dolar dan harga minyak dunia yang sukses memaksa kurs rupiah merosot 4 poin ke level Rp17.386 per dolar AS.
"AS dan Iran menemui jalan buntu," urainya membaca kepanikan para pelaku pasar.
Kebuntuan geopolitik ini meledak usai Teheran menolak keras proposal Washington dan justru menuntut ganti rugi perang, pencabutan sanksi, hingga kontrol penuh atas Selat Hormuz.
"Sangat tak bisa diterima," respons Presiden AS Donald Trump menolak mentah-mentah proposal balasan Teheran.
Di tengah panasnya gempuran sentimen eksternal tersebut, pertahanan pasar domestik juga terpantau rapuh akibat bayang-bayang pesimisme penurunan data survei kepercayaan konsumen dari angka 122,9 menjadi 122.
"Diprediksi berkisar Rp17.300 hingga Rp17.400," pungkas Lukman memproyeksikan rentang pertahanan kurs ke depan