JAKARTA, AFU.ID — Aktivitas vulkanik Gunung Semeru belum menunjukkan tanda mereda. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kembali mengalami tujuh kali erupsi dalam enam jam pada Kamis (16/7/26), sementara warga tetap dilarang beraktivitas di zona bahaya sepanjang Besuk Kobokan. Tujuh erupsi tercatat sejak pukul 00.42 hingga 06.15 WIB. Tinggi kolom letusan berkisar 700 hingga 1.100 meter di atas puncak atau mencapai sekitar 4.776 meter di atas permukaan laut.
Aktivitas berulang tersebut menambah panjang catatan erupsi Semeru sepanjang 2026. Hingga Selasa (14/7/26), gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang itu tercatat telah mengalami 1.486 kali erupsi. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengatakan pemantauan pada Kamis pukul 00.00–06.00 WIB merekam 15 kali gempa erupsi atau letusan. Gempa tersebut memiliki amplitudo 13–22 milimeter dengan durasi 71–158 detik.
Petugas juga mencatat lima kali gempa guguran, tiga kali gempa embusan, satu kali gempa harmonik, dan dua kali gempa tektonik jauh. Aktivitas serupa berlangsung sepanjang Rabu (15/7/26). Dalam 24 jam, Semeru mengalami 66 kali gempa letusan dengan amplitudo 10–23 milimeter.
Pada periode yang sama, satu awan panas guguran terekam dengan amplitudo 22 milimeter dan durasi 187 detik. Petugas juga mencatat 16 gempa guguran, 11 gempa embusan, delapan gempa harmonik, dan tiga gempa tektonik jauh. Meski terus mengalami erupsi, status Gunung Semeru belum berubah dan tetap berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut disertai pembatasan ketat terhadap aktivitas masyarakat di sekitar jalur awan panas dan lahar.
Warga dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi Besuk Kobokan. Kawasan itu berpotensi terkena perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. “Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar,” kata Liswanto.
Peringatan juga berlaku di sepanjang Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang menjadi anak Besuk Kobokan. Warga diminta mewaspadai awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat bergerak melalui sungai maupun lembah yang berhulu di puncak. Badan Geologi sebelumnya menyatakan aktivitas Semeru masih tergolong tinggi dan didominasi proses di permukaan berupa erupsi, awan panas, serta guguran lava. Akumulasi material di sekitar puncak juga dapat berkembang menjadi guguran lava pijar maupun awan panas.
Hingga laporan pengamatan diterbitkan, PVMBG belum menurunkan status maupun mempersempit zona larangan. Warga diminta tetap mematuhi batas bahaya meskipun erupsi Semeru telah berlangsung berulang kali dalam waktu lama. (RHU)