Sebuah penembakan massal di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Thailand, pada 7 Agustus 2026, mengakibatkan sembilan orang tewas dan 15 lainnya terluka, termasuk tiga guru dan tiga siswa. Pelaku, yang diduga seorang siswa sekolah tersebut, mengakhiri hidupnya setelah melakukan aksinya dengan menembak diri sendiri di ruang komputer, setelah lebih dulu membunuh kakek dan neneknya. Insiden ini menambah daftar kekerasan bersenjata di lingkungan sekolah di Thailand, meskipun negara tersebut memiliki aturan ketat mengenai kepemilikan senjata api.
Siswa dievakuasi dari lokasi penembakan di sekolah di Provinsi Nonthaburi, Thailand, Jumat (7/8/2026). (ANTARA/Xinhua)
JAKARTA, AFU.ID - Sedikitnya delapan orang tewas dalam penembakan massal di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Nonthaburi, Thailand, Jumat (7/8/2026). Pelaku diduga merupakan siswa laki-laki kelas 9 berusia 14 tahun yang bersekolah di Debsirin Nonthaburi. Polisi menyebut pelaku menembakkan senjata ke arah guru dan siswa sebelum mengakhiri hidupnya.
Lima guru di sekolah tersebut serta kakek dan nenek pelaku di rumah juga dilaporkan tewas dalam rangkaian kejadian tersebut. Sedikitnya 15 orang lainnya terluka. Dua korban di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis. Juru Bicara Kepolisian Nasional Thailand, Trairong Phiwphan, mengatakan pelaku diduga lebih dulu menembak kakek dan neneknya di rumah sebelum menuju sekolah.
Di sekolah, pelaku kemudian melepaskan tembakan ke arah guru dan siswa. Polisi menyebut sedikitnya 26 tembakan dilepaskan dalam serangan tersebut. Pelaku kemudian ditemukan tewas setelah menembak dirinya sendiri di ruang komputer. Polisi juga menemukan 34 butir amunisi tambahan yang dibawa pelaku. "Senjata api tersebut adalah milik kakek pelaku," ujar Trairong dikutip dari Al Jazeera.
Kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan rangkaian kejadian dan motif penembakan. Sejumlah ambulans dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi dan menangani korban. Para siswa juga dievakuasi dari area sekolah setelah penembakan terjadi. Seorang siswa berusia 18 tahun mengaku sempat tidak menyadari suara yang terdengar merupakan tembakan.
"Awalnya saya tidak mengira itu suara tembakan," ujarnya kepada Reuters. "Ada banyak suara tembakan: Bang bang bang. Lalu suasana menjadi sunyi. Kemudian suara itu terdengar lagi," tambahnya. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan memerintahkan pejabat terkait menangani para korban.
Insiden tersebut kembali menyoroti persoalan kepemilikan senjata api di Thailand. Negara tersebut memiliki aturan ketat terkait kepemilikan senjata, tetapi jumlah senjata api yang beredar masih tergolong tinggi. Diperkirakan terdapat sekitar 10,3 juta senjata api di Thailand, dengan sekitar 40 persen di antaranya tidak terdaftar. (FAD)