Jakarta, AFU.ID - Lebih dari 60 persen warga Inggris menilai Amerika Serikat (AS) memberikan pengaruh yang lebih banyak berdampak negatif terhadap dunia, demikian menurut survei lembaga riset YouGov yang dirilis pada Jumat (3/7/2026) bertepatan dengan peringatan 250 tahun Hari Kemerdekaan AS yang jatuh pada 4 Juli.
"Hingga saat ini, 64 persen warga Inggris memandang Amerika Serikat lebih sebagai kekuatan yang membawa dampak buruk bagi dunia, sementara hanya 9 persen yang menilai negara itu lebih banyak membawa dampak baik, dan 11 persen mengatakan tidak keduanya," demikian hasil survei tersebut.
YouGov mencatat bahwa pada masa pemerintahan mantan Presiden AS Joe Biden, rata-rata responden yang berpandangan demikian berada di angka 39 persen.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 28 persen responden menilai AS telah menjadi sumber pengaruh negatif sepanjang 250 tahun sejak kemerdekaannya. Sementara itu, 38 persen responden memberikan penilaian positif terhadap peran AS selama periode tersebut.
Di sisi lain, sebanyak 10 persen responden menyatakan tidak mendukung kemerdekaan AS dari Britania Raya. Survei YouGov dilakukan pada 10–11 Juni dengan melibatkan 2.058 warga Inggris berusia dewasa sebagai responden. Lembaga tersebut tidak mencantumkan margin kesalahan (margin of error) dalam hasil surveinya.
Warga AS Tak Percaya American Dream
Sebuah jajak pendapat oleh The Associated Press dan NORC Center for Public Affairs Research menunjukkan warga Amerika Serikat kini semakin kurang percaya diri terhadap keistimewaan negaranya dan kemampuan untuk mewujudkan etos yang disebut "American Dream".
Hasil jajak pendapat yang dirilis pada Senin itu menunjukkan sekitar 30 persen responden warga Amerika percaya ada negara-negara yang lebih baik daripada Amerika Serikat. Angka tersebut naik 19 persen dari responden yang berpandangan demikian dalam survei pada Juni 2016.
Kemudian, 44 persen responden menganggap AS sebagai salah satu negara hebat di dunia bersama dengan beberapa negara lain, di mana survei satu dekade lalu menunjukkan anggapan itu dilontarkan oleh 55 persen responden.
Sekitar separuh dari responden menyatakan bahwa prinsip "American Dream", di mana kerja keras merupakan jalan yang pasti menuju kesuksesan, kini tidak lagi berlaku.
Sebanyak 34 persen warga Amerika percaya bahwa prinsip itu pernah dapat diwujudkan dan 15 persen berpendapat prinsip tersebut memang tidak pernah berhasil, demikian hasil survei tersebut.
Masih dalam survei serupa, hanya 22 persen responden berusia di bawah 30 tahun yang meyakini "American Dream" masih bisa diraih, dibandingkan dengan 46 persen warga Amerika berusia di atas 60 tahun.
Survei tersebut menunjukkan banyak responden mengaitkan hal itu dengan tingginya biaya hidup, harga perumahan, dan kesulitan dalam berkarier di Amerika.
Survei tersebut dilakukan secara daring dan melalui telepon pada 16-20 April terhadap 2.596 orang dewasa Amerika, dengan margin of error sebesar 2,6 persen. (EER)